Minggu, 06 Desember 2015

Kenyataan Mimpi

Saat aku bangun nanti, aku pasti dalam keadaan berbahagia. Rasa syukurku tak akan habis karena rindumu tetap memelukku hangat sehingga aku tak akan lagi menggigil kedinginan saat embun menyentuh pagi. 

Saat aku bangun nanti, mungkin aku masih dengan senyum mengingat tawa sisa semalam. Dengan adanya kau terlibat di dalamnya dan justru menjadi pemeran utama.

Saat aku bangun nanti, akan ada rindu yang makin membesar dan beranak pinak. Mungkin terlalu pagi, tapi aku sangat menikmatinya. Dan ketahuilah sayang, aku tak akan pergi kemana-mana, aku akan membangun kokoh rumah di hatimu.

Saat aku bangun nanti, yang akan aku tau, mimpi tak ada karena nyata lebih bahagia. 


Aku bangun, nyatanya, aku sedang tidak berbahagia. Rindumu tak memeluk hatiku, karena kau tak pernah melemparkannya padaku. Aku menggigil kedinginan, aku tak bersahabat dengan pagi.

Aku bangun, nyatanya, aku masih mengingat tawa sisa semalam, tapi tidak dengan lengkung bibir yang melebar menantang langit, namun lengkung bibir yang bak tertarik gravitasi, kurang lebih seperti orang sedang sedih, sayang.


Aku bangun, nyatanya, rinduku memang semakin membesar dan beranak pinak, aku menikmatinya. Namun dengan pengabaian dan ketidakpedulianmu. Dan yang aku ketahui, aku memang tak pergi kemana-mana, hatimu saja yang telah kau pindah ke tempat lain yang aku sendiri tak tau, tak kau pamiti.

Aku bangun, nyatanya, yang aku tau dan sekali lagi, itu semua memang hanya dalam mimpi.

Perempuan
Yang selalu sabar dan memilih untuk diam
Meski kendati di hati ada luka yang sedang berbicara
Perempuan
Yang selalu kuat dan memilih untuk tersenyum
Meski kendati selaksa air mata telah terbendung

Jumat, 18 September 2015

Seperempat Abad, Kamu.



Angan seakan ramai menyeruak kemasa yang lampau. Tatapan matamu yang pertama tak menyilaukanku, aku tak merasakan getar cinta yang begitu hebat seperti sekarang. Ada atau tidaknya kamu, tak akan berpengaruh untukku waktu itu. Kau hadir sebagai pria yang aku anggap biasa saja, yang memang lalu lalang di deretan cerita kisah hidupku. Aku tidak jatuh cinta. Dan maaf ya sayang, jujur sekali aku.

Tapi, taukah kau sayang? waktu memiliki magis yang begitu logis. Cinta justru tumbuh dan berkelakar di seluruh tubuh. Hadirmu mulai membuatku candu, aku tak mampu mengungkiri perasaanku. Dan seperti yang kau tau kali ini, aku jatuh cinta, dengan sangat.

Kau memberi cinta yang teramat istimewa dengan cara yang sederhana. Memilikimu adalah kebahagiaan yang tak mampu aku tuturkan. Mungkin kau adalah jawaban doaku yang Tuhan berikan.

Seringkali kesalku melonjak akan tingkah jahilmu, namun rindu malah menjadi setelahnya tak terkendali. Sayang, bisakah kita menjadi satu saja? Biar rindu bisa tertata. Karena kau adalah rumah yang selalu membuatku merasa betah, aku tak ingin pergi jauh meski itu kau yang menyuruh.

Seperempat abad sudah kau memiliki tahun. Bukan lagi laki-laki lucu yang pertama aku kenal, bukan lagi laki-laki yang selalu menghiburku walupun kadang aku tak terhibur. Kau telah menjadi seorang pria, sayang. Bahumu telah menjelma sebagai sandaran kuat saat aku ingin pulang. Dewasamu pun membuatku percaya, bahwa kau adalah pria yang pantas aku puja. 

Tenang saja, akan selalu ada cinta dariku yang begitu banyak kepadamu, karena Tuhan menugaskanku untuk hal itu.

Selamat Ulang Tahun, Sayang. Pria penyabarku, cepat genggam mimpimu dalam kenyataanmu ya (:


Teruntuk pria pemakai sendal.

Dari perempuan kecilmu, yang selalu kau panggil ganjen.

Minggu, 12 Juli 2015

Kerinduan.

Untuk kamu yang sedang menahan rindu di saku.

Aku masih menatap langit yang sama, duduk terpana menyilangkan tangan di dada. Sunyi telah meraung memenuhi malam. Hening. Sepi. Tak ada yang mampu membuat gaduh. Kecuali rindu yang sedari tadi telah aku rasakan sebagai candu. Melebur bersama udara yang menyebar liar.

Saat terakhir kali bertemu, mungkin rindumu belum usai dan mungkin tak akan selesai. Maaf jika selalu membuatmu kalut akan telatnya datangnya kabar, sampai membuatmu gusar. Aku sedang sibuk, sayang. Aku sibuk menata rindu yang mulai berceceran, tak cukup wadahku untuk menahan. Kau tahu? Aku selalu memikirkan bagaimana reaksimu ketika nanti bertemu aku lagi setelah sekian lama berjarak dan terpisah. Kamu selalu saja menjejaliku dengan kecupan-kecupan lucu di ujung telfon dan chatmu, apa memang nantinya kamu akan melakukan kecupan genitmu di keningku atau hanya akan sekedar cengar-cengir karena telah berhasil membuatku rindu? Haha itu terserah padamu. Anggap saja ini sebuah permainan rindu dan aku adalah yang rela disebut kalah, rela menerima dekapanmu yang mampu menghilangkan resah.

Dulu, kita pernah menikmati langit malam berdua. Melawan dingin yang diselimutkan pada semesta, dengan lingkaran tanganku tepat memelukmu dari belakang. Sembari diselipkan tawa diantara kita. Saat itu, hatiku merasa luas, bersorak bagai aku yang paling bahagia tak terbatas. Apakah kamu merasakan hal yang sama?

Rasanya aku mulai kalap, sayang, memenuhi seisi ruang pikiranku dengan namamu. Pernah aku mencoba mengabaikan, tapi kenangn justru menyusup tak terkendalikan. Tapi kemudian, senyum wajahmu memang tak mampu aku alihkan. Aku telah tertunduk pada rindu, membiarkannya begitu saja masuk tanpa ragu.

Aku paling pintar berkata-kata sayang, seperti yang kamu bilang. Tapi aku tak pernah berdusta soal rasa. Rindu ini, perasaan ini, aku tak pernah meminta, semuanya datang begitu saja.

Apa kabar, kamu?
Masihkah dingin menutupi semestamu?
Atau hangatnya rindu telah menentramkan hatimu?
Jaga hatimu baik-baik disana.
Aku akan selalu menyayangimu dengan cara yang terbaik walaupun itu terlihat sederhana.

Kecup hangat,

Perempuan kecilmu -yang sering kamu panggil dengan ganjen.

Selasa, 12 Mei 2015

Titik Dua: Kamu



Kepada pagi
Kepada dingin
Kepada gigil yang memeluk tubuh
Semoga sinar tak perlu malu untuk tampak
Membasuh rindu pada hangat

Pagi yang gila, menumpukkan rencana yang maha di setiap harinya. Angin dingin menerpa muka membelai bersih tanpa cela. Ada sekelebat ingat saat pertemuan dengan pria tampan, yang mampu menghangatkan. Pria itu mulai dari sekarang akan aku sebut sebagai: kamu. 

Aku masih duduk di sudut yang sama, dipinggir kasur memegang secangkir kopi yang sudah mulai berkurang setengahnya. Aku menatap jendela kamar dengan seksama, menghitung berapa tetes air jatuh yang sebenarnya tak terhitung jumlahnya, seirama dengan bulir rasa di hati yang mulai bergejolak dan memberontak. Hati yang bercerita tentang kejatuh cinta-an padamu yang mulai tampak.

Ini tentang hatiku yang mulai menggilai setiap bahagia yang kau bawa, lalu meresap ke seluruh tubuh seperti tinta.

Ini tentang hatiku yang bangun dari mati, berpendar ketika kau dekati. Merangkul luka yang sebelumnya aku pikir tak akan terobati.

Ini tentang hatiku yang sibuk menata jantung yang berdebar. Ada rasa yang bergetar dan tak mau kalah dengan sakit yang mulai longgar.

Ini tentang hatiku yang mulai kelimpungan menghadapi gejolak perasaan. Memaksa diri sendiri meruntuhkan benteng pertahanan. Menimbang-menimbang besar kecilnya kesakitan yang akan ditimbulkan dari sebuah kedatangan.

Dan, Ini masih tentang hatiku, yang mulai menggigil saat tau tentang hatimu.
Nyatanya, hatiku terabaikan pada kesempatan yang pertama oleh: kamu.

Kamu!
Laki-laki bertubuh tinggi dan berparas tampan.
Kamu!
Laki-laki pecinta tulisan.
Kamu!
Laki-laki pemerhati pakaian.

Datang dan memaksa tinggal kemudian tanggal. Membawa pergi setiap bahagia dan menyisakan tinta racun yang telah menyebar dengan gila. Mengkoyak peristirahatan dari rasa suka, kemudian menyulut api di dalam tungku hati dan membakar luka. Mencoba menusuk dada agar jantungku tak lagi berdebar, melubangkan luka agar semakin besar. Membiarkanku mabuk dan tak sadar perlahan-lahan mulai membunuh diri sendiri, sementara kau tau bahwa aku pasti mati walaupun tanpa belati.

Jadi, haruskah aku memang berada dalam satu waktu, ketika aku mencintai sekaligus membenci: kamu.

Rabu, 04 Maret 2015

Mendekap Sebelah Sayap.


Aku tak pernah menatap seorang pria sedekat ini.

Nafas hangat menganga menerpa mata, kau hanya berjarak satu jengkal dari bola mata. Bibir yang liar pada ujung keningmu berkali-kali menjelma sebagai suatu kebahagiaan mutlak. Adalah kamu, saat hawa dingin tergantikan oleh hangat pelukmu. Sering kali, diam terdengar lebih lantang, bersuara lewat debar jantung yang menggelegar dari dada hingga rongga telinga.

Aku jatuh terjerembab. Aku biarkan diri jatuh dan semakin tenggelam. Tenggelam dalam cinta dan peluk yang kau buat.

5 menit berlari, aku semakin menyusup tersungkur pada dekapan tubuhmu. Kau memelukku dengan sangat perlahan, tak ingin kalau-kalau aku tersentak karena debaran jantungmu yang semakin kencang.

Ada kebersamaan yang meletup, membuncahkan kesenangan.

Seandainya kau tau, kau adalah yang mencintaiku dengan istimewa, dengan caramu yang berbeda. Kadang aku membenci beberapa sifatmu dan tingkahmu yang menjengkelkan dan membuatku serapah tak karuan. Tapi kadang, aku merindui segala yang kubenci ketika kau tak ada. Karena itulah aku paham, bahwa kurangmu dan lebihmu adalah satu paket yang aku butuhkan dan mulai aku gilai. Kau yang berbeda itu adalah rumah tempatku singgah, yang menjamuku dengan hidangan yang serba mewah dan memaksaku untuk betah.

Karenamu aku menjelma sebagai seorang yang mengenal diri, menjadi diri sendiri yang jauh dari kata buruk. Saat aku berada di pelukmu, dekapmu memberiku kepercayaan seolah aku ini perempuan yang kuat. Aku yang lebih hebat. Entah kenapa aku merasa memiliki segalanya yang baik-baik ketika aku dalam pelukmu. Mungkin cintamu yang membuatnya begitu.

Padamu aku menyerah. Kau yang selalu tak pernah berhenti mencari cara agar aku bahagia. Kau yang berdiri pertama kali ketika ada sedih mulai muncul di pelupuk mata. Kau yang dengan mati-matian memarahiku ketika aku salah, mengecupku dengan pelajaran yang mengajaibkan. Kau yang berhati luas, yang tak mampu aku menyusuri, namun tetap kau tuntun untuk mengarungi.

Kekasih, terima kasih untuk tetap mencintai segala burukku dan memperbaikinya menjadi kebaikan. Terima kasih telah mengubur egoisku untuk sebuah masa depan. Terima kasih untuk keluhan-keluhanku yang  tetap kau dengarkan. Terima kasih tetap menggenggam erat saat aku tak dihiraukan. Terima kasih atas segala sabar untuk menghadapiku yang kau lipat gandakan. Terima kasih kamu yang selalu memperjuangkan.

Tetap genggam tanganku ketika kamu berjalan, ketika kamu pergi, ketika kamu berlari, pun ketika kamu tersandung dan jatuh. Jadikan aku sebelah sayapmu yang menemanimu untuk tetap terbang dan memberimu hidup yang seimbang.

10 menit yang terpatri, peluk bertambah lekat. Jangan lepaskan. Biarkan saja aku menjadi egois sekali ini, menginginkanmu dengan serakah, ingin memilikimu dan bersamamu kini dan nanti. Dan saat ini aku ingin tetap berada dalam keadaan nyamanku, aku damai memilikimu. Seperti terlahir kembali dengan bungkusan kebahagiaan di tangan.
Karena denganmu, cintaku jatuh tanpa membekaskan luka.

--- Ditulis lima hari sebelum pria yang aku sebut meninggalkan aku dengan kebut dan membuat hati semakin ribut.

Kepada kamu pria yang (pernah) aku berikan hati yang paling dalam, ketika hatimu sedang sibuk mencari alasan untuk beranjak, ketika itu pula aku masih mencintaimu lebih besar dari yang kau dengar. Hai, apa kabar? Jangan tanya balik, aku sudah sangat baik-baik saja. ---


Selasa, 27 Januari 2015

Tuhan Selalu Sengaja


Kepada kamu lelaki berbaju kotak-kotak, bertopi dan pecinta kopi.

Aku adalah yang (pernah) mencintaimu dengan sangat. Lalu kau sia-siakan dengan amat.

Sayang. Mas. Kakak. Kang. Abang. Dan segala panggilan yang pernah aku sebut untuk mengistimewakanmu. Aku patah hati.

Orang-orang bilang, ketika kita tersakiti dan mungkin kali ini aku (hatiku) sedang tersakiti, Tuhan akan mengabulkan segala permintaanku. Berdoa saja yang baik-baik, yang membawa pada sebuah laik. Semampu dan sebanyak yang diminta, Tuhan tak akan meronta. Karena Tuhan dekat dengan orang yang hatinya tak karuan, setiap ucapan doa akan didahulukan. Dan aku lakukan itu.

Orang-orang bilang, ketika hujan turun bergegas menyapa bumi, saat itu pula malaikat akan turun bergegas menyapa setiap orang yang berdoa dengan sungguh-sungguh, lalu meneruskan doa yang sahaja pada Tuhan. Berdoa saja sebanyak mungkin, sampai tak ada kata tak mungkin. Meminta apapun pada Tuhan, menginginkan semua terkabul tanpa ampun. Dan aku lakukan itu.

Orang-orang bilang, ketika sepertiga malam, saat raga terkantuk, ambilah air suci dan duduklah dengan tenang. Tunduk lumpuh pada kiblat, bercerita penuh segala keluh pada Tuhan yang maha hebat. Dongengkan saja semua yang tak sanggup dinalar oleh manusia, Tuhan maha mendengar tanpa asa. Tuhan maha mengerti segala yang bahkan diri sendiri tak dapat mengerti. Dan aku lakukan itu.

Orang-orang bilang, ketika sudah tak ada lagi yang mampu mempedulikan, menyayangi dan menemani. Datanglah pada Tuhan yang maha mengasihi. Sujudkan kepala pada sajadah, tempelkan kening yang penuh dosa pada alas yang tak berdosa. Mengadu pada Tuhan, karena Tuhan akan selalu mempedulikan, menyayangi dan menemani tanpa terbesit untuk meninggalkan. Dan aku lakukan itu.

Kamu tau? Kali ini aku berada pada titik terendahku. Aku berada dalam keadaan sendiri, sakit hati, di tengah hujan dan pada sepertiga malam. Aku tengadahkan kedua tangan, mengkomat-kamitkan segala angan, dengan sejuta harapan agar dikabulkan, didahulukan, didengarkan dan dipedulikan oleh Tuhan.

Aku meminta segalanya pada Tuhan. Segalanya.

Logikaku kandas, emosi sedang menggerogoti dan menindas. Bisa saja Tuhan tak akan membiarkan doaku bebas disaat pikiranku diluar batas. Hmm begini saja… kabulkan doaku saat aku tertidur saja, Tuhan. Karena saat itu aku sedang berbahagia dengan mimpi, tak memikirkan apa yang telah menggerogoti, mimpi yang tidak akan menyakiti meski pisau menancap di hati.

Kamu tau apa yang aku minta pada Tuhan?

Aku minta Tuhan melembutkan hatimu.
Aku minta Tuhan membukakan hatimu.
Aku minta Tuhan mengembalikanmu padaku.
Aku minta Tuhan tak lagi menghilangkanmu dariku.
Aku minta Tuhan memberiku kesempatan.

Tapi Tuhan berkata lain, Sayang.

Demi menyelamatkanku dari orang yang salah, Tuhan selalu sengaja mematahkan hatiku.

Jikalau pada akhirnya Tuhan mengabulkan di kenyataan, aku akan berdoa sebaik-baiknya, tapi akan aku pastikan bukan dalam keadaan sakit hati dan sendiri, mungkin hanya pada saat hujan pada sepertiga malam. Tenang saja, aku tak akan balik menjahatimu. Karena aku tau rasanya sakit (kamu perlu mencobanya, Sayang).

Aku akan minta Tuhan melembutkan hatiku.
Aku akan minta Tuhan membukakan hatiku.
Aku akan minta Tuhan mengembalikanku padamu.
Aku akan minta Tuhan tak lagi menghilangkanku darimu.
Aku akan minta Tuhan memberimu kesempatan.

Tapi Tuhan akan berkata lain, Sayang.

Demi menyelamatkanku dari orang yang salah, Tuhan tak akan membiarkan aku kembali pada suatu keadaan, dimana aku sangat percaya bahwa kamu tak akan menyakiti hatiku. Tuhan tak akan membiarkan aku kembali pada suatu waktu, dimana aku sangat benar-benar yakin kamu tidak akan meninggalkanku. Tuhan tak akan membiarkan aku kembali pada suatu masa, dimana aku menggenggamu dengan erat sebagai seorang kekasih.

Tuhan tidak akan membiarkan semuanya itu terjadi. Karena Tuhan tidak akan memberikan cerita yang sama di setiap episodenya.

Minggu, 30 November 2014

Jatuh Cinta Tak Pernah Sehebat Ini.



Apa kabar kamu, sering kali aku bertanya seperti itu padamu, bukan karena aku terabaikan tapi karena aku merindukanmu. Apa kabar jerawat di pipimu ketika terakhir kali bertemu denganku? Masih ada kah? Aku selalu suka dengan jerawatmu, kamu bilang itu akibat dari kamu terlalu banyak merindukanku. Setelah kita memutuskan untuk saling ingin memiliki, walaupun tanpa ikatan yang pasti, tapi itu tak membuatku berhenti menyayangimu. Aku selalu memperhatikan setiap senyummu yang selalu mampu membuatku jatuh hati. Aku selalu merasa bahagia ketika kamu lupa akan umurmu dan bermanja-manja kepadaku.

Hei kamu lelaki yang mampu membuatku luruh.

Ingatkah kamu bagaimana pertama dulu kita bertemu? Tentang tatapan pertamamu kepadaku, kamu selalu salah tingkah ketika aku berbalik menatapmu. Tanganmu yang mencoba melebur dengan punggung tanganku pertama waktu itu, kamu terasa sangat malu-malu. Candaan pertamamu waktu itu yang masih enggak aku pedulikan. Obrolan kita yang terlalu banyak diam, serta semua hal-hal yang membuat semuanya dimulai. Aku tak selalu jelas mengingat bagaimana kita bertemu, tapi yang aku jelas tau, kita sama-sama menginginkan.

Sebenarnya, kamu adalah pria yang biasa saja. Penampilanmu yang sering apa adanya, mungkin tak akan membuat pandangan perempuan beralih kepadamu. Kamu lebih sering terlihat hanya memakai kaos dan setelan jeans panjang dengan rambut yang dibiarkan acak-acakan. Sepertinya kamu tak peduli dengan adanya penemuan baru di bidang fashion seperti pomade. Ya, mungkin batas ketidak-tertarikan perempuan itu hanya sampai ketika kamu membuka obrolan, dan aku yakin, perempuan mana yang tak berhasil kamu buat nyaman dengan sifatmu yang friendly. 


Percayalah, kadang fisik harus di-nomor-duakan oleh perempuan ketika urutan puncak telah dihuni rasa nyaman.


Caramu untuk mendekatiku malah tak terlihat sama sekali olehku. Atau justru kamu yang terlalu pandai menyembunyikan kedok-mu? Pesan singkatmu selalu membuatku menanti. Sesekali kamu menawarkan telingamu untuk mendengar cerita suka dan dukaku, bahkan cerita tak pentingku. Kamu terlalu berbeda dengan kebanyakan pria yang lain yang membuatku merasa dikejar. Kamu datang seperti teman yang selalu dapat diandalkan.

Aku sangat bahagia dengan ungkapan-ungkapan sederhana kita setiap hari seperti: “Lagi apa?”, “Sudah makan belum?”. Aku juga sangat bahagia ketika kamu berusaha mengirimiku suara bangun tidurmu lewat voice note yang hanya sekedar mengucapkan “Selamat pagi”, walaupun suaramu terdengar sangat cempreng bagiku. Kamu selalu membuatku merasa manis dan istimewa. Tapi sesekali kamu juga pernah membuatku marah hanya karena ejekan dan candaanmu. Tenang saja, kamu tau kan? Aku memang perempuan yang gampang sekali ngambek.

Dan bertambahnya hari aku semakin tenggelam dalam rasaku padamu. Kamu yang selalu memberiku kejutan-kejutan sederhana yang tak pernah terpikirkan olehku. Padahal setauku, kamu bukan orang yang romantis. Kamu tau apa minuman kesukaanku dan kaget ketika aku bosan memesan minuman yang sama, kamu tau jam berapa aku tidur, kamu tau kerudung mana yang menjadi favoritku, bahkan kamu bisa membedakan aku sedang berdandan atau tidak saat bertemu denganmu.

Sekian lama kita bersama, sampai hari ini kamu tak pernah lupa mengingatkanku untuk menjaga kondisi fisikku yang ringkih, katamu aku ini pelupa soal menjaga kesehatan. Padahal justru kamu yang sering lupa, bekerja tak kenal waktu.

Sekali waktu dalam hidupmu, pernah kamu begitu lemah, meminta sandaran bahuku untuk menjadi rumah. Yang kamu inginkan adalah mendengar suaraku menenangkanmu dan aku yang mengusap lembut ujung kepalamu. Mungkin kamu hanya butuh penguatan. Setauku, pria setegar dirimu, hanya akan merasa nyaman meluapkan ceritanya jika bersama perempuan yang sudah dianggap pasangan jiwa. Untuk keadaan satu itu, aku berterima kasih telah mempercayakan emosimu kepadaku.

Oh iya. Terlepas dari semuanya, maafkan aku jika selalu merepotkanmu. Maafkan aku kalau membuatmu lelah menghadapiku. Aku ingin kita menghadapi masa depan dengan tetap saling menggenggam. Karena bersamamu, aku merasa semesta telah menciut cukup menjadi kamu. Aku merasa genap. Seharusnya aku juga patut berterima kasih pada Tuhan dan semesta yang telah kompak mempersatukan.

Aku baru saja menyebut Tuhan bukan? Aku sering berbincang denganNya. Membicarakan sesuatu hal yang penting. Membicarakan kamu. Dalam sujudku, saat dahi membentur sajadah yang beraroma dingin, aku meminta agar aku kuat. Kuat menjagamu.

Kepada kamu lelaki yang mampu membuatku luruh. Sekali lagi, apa kabar kamu?

Aku beri tau, jatuh cinta tak pernah sehebat ini.