Sampai akhirnya, aku telah sampai
pada pilihanku. Pilihan atas perjuangan yang melelahkan. Aku memilih menyerah.
Bukan karena aku ingin disebut sebagai pecundang, tapi lebih karena tugasku
sudah selesai, tugasku telah digantikan, olehnya.
Ada rasa sakit yang tiba-tiba
menyerang, menghunus seperti pedang. Mungkin ini terkesan berlebihan. Aku tak
berlebihan, karena mungkin kamu perlu menjadi aku untuk tau rasanya.
Kalau saja aku lebih pandai
membaca masa depan, mungkin aka tak akan memperjuangkanmu sehebat ini sebelumnya. Kalau
saja aku tak mengartikan segala perhatianmu sebagai rasa sayang, mungkin aku
tak akan memberimu kesempatan untuk meletakkan posisi yang paling penting di
hatiku. Aku terlalu bodoh, aku terlalu cepat jatuh cinta.
Sebelumnya, aku menikmati setiap
tertawa genitmu di ujung telfonku. Aku menggilai setiap pesan singkatmu yang
tak pernah absen muncul di layar handphoneku. Aku tersipu malu dan merasa
menjadi paling bahagia saat ada banyak kecupan lucu walaupun hanya berbentuk
tulisan.
Aku menyukaimu.
Begitu banyak hal yang aku
lakukan, begitu tak tanggung-tanggung aku berusaha untukmu. Seharusnya aku tak
mempedulikanmu ketika kamu mulai datang di hidupku. Seandainya saja aku tak
pernah mengenalmu, aku tak akan tau rasanya menangis tersedu.
Lalu sekarang, bagaimana
perasaanmu? Legakah? Aku sudah tak bisa menannyakannya lagi padamu, karena aku
telah kamu hilangkan.
Sayangnya, kita tak bisa saling
menyapa, seperti dulu sebelum kita ada rasa, karena aku telah kamu hilangkan.
Awalnya aku tak pernah berfikir
untuk meninggalkanmu, tapi nyatanya, aku yang justru kamu hilangkan, dari
hidupmu.
Jadi, siapa yang dihilangkan atau menghilangkan, yang jelas bagianmu di hidupku atau bagianku di hidupmu, telah selesai.
Jadi, siapa yang dihilangkan atau menghilangkan, yang jelas bagianmu di hidupku atau bagianku di hidupmu, telah selesai.
